CURRENCY REFORM (1)

=====================================================================================

SOEDIJONO’S TETERINDO BLOG

2012 Jan 14       MARI KITA TUMBUH-KEMBANGKAN  TETERINDO

THEMA:                     MISTERI HARGA

JUDUL   :                     CURRENCY REFORM (1)

NOMOR :                     2012MH#02/oleh: Soedijono Reksoprajitno

LATAR BELAKANG

Dalam topik/ judul sebelumnya, telah disinggung mengenai pengalaman tanah air kita mengalami seingat penulis lima kali kejadian atau kebijakan “reformasi mata uang”/ ‘currency reforms’. Dari semua pengalaman reformasi mata uang tersebut, satu dibandingkan dengan lainnya ada kesamaannya, tetapi juga ada perbedaannya.

Ini menimbulkan pertanyaan: “Apakah kalau dua buah kebijakan ekonomi memiliki unsur kesamaan yang didampingi unsur perbedaan, untuk meramalkan dampak konkretnya unsur persamaan (misalnya karena dipandang lebih pokok) cenderung diduga akan mengalahkan dampak dari unsur perbedaannya?” Dari contoh masalah yang disajikan dalam topik sekarang ini, penulis cenderung menyarankan bukannya kita menerima saran termaksud,  tetapi menyarankan hendaknya kita terbebas dari pandangan itu.

Resikonya lebih tinggi berapriori samanya masalah dan samanya solusi yang dibutuhkan untuk dua masalah berbeda dari pada berapriori berbedanya masalah dan berbedanya solusi yang  membawa hasil lebih berhasil guna tentulah sama, tidak mungkin berbeda.  Kalau berapriori beda,  hasil perhitungan dampaknya, dapat beda dapat sama.

Untuk lebih jelasnya, perhatikan Daftar Perbandingan antara Lima Reformasi Mata uang di bawah ini.

 

Daftar Perbandingan antara Lima Reformasi Mata uang

 

PERISTIWA     SEBUTAN        SISTEM MONETER        GOOD MONEY , BAD MONEY          BERLAKU HUKUM   M.U. YANG            

                                                                                                                                                                                GRESHAM?       DIGANTI: è BARU:

HARGA EMAS/PE-              STANDAR KEMBAR       bisa gold, bisa silver coins                           YA           TIDAK ADA PENGGANTIAN MU    

   RAK BERUBAH

RMU#1[SR]    RMU               STANDAR KERTAS         dari standar logam ke st. kertas                YA            HIND BELANDA è JEPANG

 

RMU#2[SR]     RMU              STANDAR KERTAS        dari ST. KERTAS LAMA ke BARU               TIDAK       M.U. TNTR JEPANG èORI 

RMU#3[SR]    RMU              STANDAR KERTAS          dari ST. KERTAS LAMA ke BARU                 YA             NILAI TURUN SEPAROHNYA

RMU#4[SR]     RMU           STANDAR KERTAS          dari ST. KERTAS LAMA ke BARU                 YA             NILAI TURUN SEPERSERIBUNYA

 

Penjelasan:

                        RMU       = Reformasi Mata uang  =  ‘Curreency Reform’.    [TG] = SirThomas Gresham.  [SR] = Soedijono Reksoprajitno.

                    RMU#0  =  RMU di Inggris sekitar di jamannya SirThomas Gresham (1525-1579).       

                        RMU#1  =  RMU di wilayah Hindia-Belanda 1942, setelah diduduki tentara Jepang.

                        RMU#2  =  RMU di Indonesia, sesudah Indonesia merdeka.

                    RMU#3  =  RMU di Indonesia 1950.

                        RMU#4  =  RMU di Indonesia 1965/1966.

 HUKUM GRESHAM   Sir Thomas Gresham, yang hidup empat setengah abad lalu, mewarisan ungkapan yang demikian terkenal dengan sebutan ‘Gresham Law’, yang biasa diungkapan dalam bahasa kita sebagai “Hukum Gresham”, berbunyi: “Bad money drives out good money”. Selanjutnya Gresham menyaksikan, bahwa “Faktor yang menyebabkan timbulnya “good” dan “bad “ money adalah adanya perubahan  harga relatif  emas terhadap perak” di pasar. Kesaksian Gresham tersebut terjadi sekitar empat setengah abad lalu, di mana perekonomian yang disaksikannya menggunakan sistem standar kembar.

Mengikuti uraian di atas, timbul pertanyaan:  “Kalau begitu, Hukum Gresham lebih tepat disebut sebagai teori ekonomi murni atau sebagai teori ekonomi terapan?” Nanti akan penulis jelaskan/ buktikan, bahwa jawaban yang betul ialah: Bagian pertama yang berbunyi: “Bad money drives out good moneybersifat abstrak universal, tetapi bagian kedua, yang berbunyi “Faktor yang menyebabkan timbulnya “good” dan “bad “ money adalah adanya perubahan  harga relatif  emas terhadap perak ”di pasar”, masuk kategori “teori ekonomi terapan”.

 REFORMASI MATA UANG

Yang dimaksud dengan “Reformasi Mata uang”  ialah peristiwa ekonomi yang berujud penataan kembali  tata nilai mata uang dalam negeri yang dilakukan oleh penguasa yang ada dalam wilayah bersangkutan. Mendasarkan pada definisi tersebut, maka tanah  air kita pernah mengalami empat peristiwa RMU/ reformasi mata uang, seperti telah diuraikan di atas.

RMU#1[1942]  Tidak lama setelah wilayah Nusantara  diduduki oleh tentara Jepang, tentara pendudukan tersebut mulai mengedarkan mata uang kertas baru buatan mereka sendiri dengan denominasi sama atau  sedikit di atas mata uang  Hindia-Belanda, dengan kian hari kian cepat bertambahnya semakin meningkatnya denominasinya.

Tentara Jepang menduduki antara lain wilayah Nusantara, bukan sebagai tamu, tetapi sebagai musuh pemerintah (Hindia) Belanda dengan maksud antara lain sebagai sumber pembiayaan untuk membiayai keikutsertaannya dalam Perang Dunia Kedua, melawan Sekutu.  Untuk maksud tersebut, yang dilakukan pemerintahan tentara Jepang bermacam-macam.

Melalui kebijakan fiskal, antara lain: mendefisitkan anggaran belanja yang dibiayai dengan mencetak uang kertas, menaikkan pajak produksi dan pendapatan, …. dsb, melalui kebijakan moneter, antara lain meraup ‘seignorage’ dengan jalan “mencetak uang kertas”, melalui kerja paksa menanam pohon jarak, kerja paksa mengumpulkan barang-bekas dari logam, [lapangan tenis di depan rumah sekolah penulis, jaringan kawat , tiang  besi dan seng yang terpasang, semuanya diambil; semua sungai di dalam kota dibersihkan dari segala logam bekas yang ada, dsb].

Semua hasil produksi, sisanya setelah dipotong untuk pajak, baru boleh masuk pasar. Dengan berkurangnya secara drastis faktor-faktor produksi masuk ke pengolahan barang dan jasa swasta [= ‘private goods and services’], harga barang-barang dan jasa-jasa akan naik juga. Dengan sendirinya inflasi  yang timbulnya berasal dari kenaikan harga di sektor input disebut ‘cost pushed inflation’.

Lawan dari ‘cost pushed inflation’ adalah “inflasi tarikan permintaan”/ ‘demand-pull inflation’. Inflasi “tarikan permintaan” ini,  faktor kemunculannya banyak. Semuanya sudah disebutkan di atas. Semua variabel yang merupakan penyebab bergeraknya kurva ‘aggregate demand’ menjauhi titik orijin semuanya merupakan unsur ‘demand pull inflation’.

Dalam bentuk grafik, terjadinya unsur inflasi “tarikan permintaan” akan menggeser kurva ‘aggregate demand’ ke kanan menjauhi titik orijin, sedangkan inflasi “dorongan biaya” menggeser ‘aggregate supply’ ke kiri atas. Kalau “tarikan demand” lebih kuat dari pada “dorongan biaya”, tingkat harga akan naik dan “output nasional” meningkat, sedangkan kalau yang lebih kuat “dorongan biaya”-nya, maka tingkat harga naik , tetapi ‘output nasional’ turun, sedangkan ‘tingkat pengangguran’ juga naik.

Kalau uraian ini diterapan pada sistem moneter yang berlaku pada jamannya Sir Thomas Gresham, maka mekanisme berikut muncul. Kalau di pasar , ceteris paribus, harga perak naik atau harga emas turun, maka mata uang perak  tambah disukai masyarakat, hingga disebut ‘good money’; sedangkan mata uang  emas menjadi kurang disukai, hingga disebut sebagai ‘bad money’.

Sebagai manusia yang rasional dalam memilih pilihan antara mengeluarkan uang yang baik atau uang yang buruk, tentu memilih: uang yang baik disimpan, uang yang jelek  dipakai. Ini berarti mata uang yang buruk meningkat  peredarannya, sedangkan yang baik tingkat peredarannya turun. Demikian, vice versa.   Itulah yang dimaksud oleh hukum Gresham.

Sekalipun mendapat pengakuan dari para  ilmuwan untuk menyandang sebutan ‘law’ bagi pendapat Gresham, yaitu karena memiliki sifat berlaku untuk masa jangka panjang, namun kita harus menyadari bahwa jangka panjangnya tersebut ada batasnya. Kini sudah lama tidak  menjumpai lagi sistem standar emas-perak. Mungkin juga untuk seterusnya.

Perlu kiranya kita sadari, bahwa kalau dari lima reformasi mata uang di tanah air kita, boleh dikatakan semuanya dilakukan dengan sengaja oleh penguasa, sedangkan di jamannya  Sir Thomas Gresham munculnya ‘good’ dan ‘bad money’ adalah karena perubahan struktur harga di pasar emas dan atau perak.  Oleh karena itu tidak kita masukkan ke dalam  kategori “reformasi mata uang”.

 RMU YANG MANA SAJA BERLAKU HUKUM GRESHAM?

Yang dimaksud dengan pertanyaan di atas ialah: Dari empat RMU yang pernah terjadi di tanah air, yang mana saja berlaku ‘Bad money drives out good money?’/ Mari kita coba teliti satu per-satu.

RMU#1: Penguasa tentara Jepang menggantikan mata uang Hindia-Belanda  dengan mata uang kertas buatan mereka sendiri. Dengan cara membaurkan mata uang buatannya sendiri secara paksa ke dalam tempat beredarnya mata uang Hindia-Belanda, langsung disambut oleh berlakunya Hukum Gresham. Mata uang lama, yaitu mata uang Hindia-Belanda langsung berubah status menjadi ‘good money’, sedangkan  status ‘bad money’  dipegang oleh mata uang pendatang baru, yaitu mata uang tentara Jepang.

Sekalipun nenek moyang kita belum pernah mendengar kata ‘hukum Gresham’, namun reaksi mereka terhadap dua jenis mata uang termaksud, sejalan sekali dengan isi “hukum Gresham”.  Mata uang Hindia-Belanda diperlakukan sebagai matuang baik, sedangkan mata uang  tentara Jepang sebagai mata uang jelek. Konsekuensi nya kesimpulannya juga sama: “Mata uang tentara Jepang , menyingkirkan mata uang Hindia-Belanda, dari peredaran” .

Kenyataan yang penulis saksikan dari dunia nyata sepenuhnya menjukkan kesesuaiannya dengan apa yang baru penulis ketengahkan. Ini merupakan tambahan bukti bahwa nenek moyang kita jalan pikirnya sejalan dengan jalan pikir  masyarakat  Inggris empat abad sebelumnya dalam menghadapi peristiwa berubahnya angka banding harga emas terhadap harga perak di pasar. Secara kebetulan saja, yang menyaksikan peristiwa di Inggris adalah Sir Thomas Graham, sedangkan di tanah air Bangsa Indonesia sekitar tahun 1942 secara kebetulan punulis sendiri.

Kemudian: Apakah konsekuensi dari munculnya kenyataan bahwa kejadian yang disaksikan Sir Thomas Gresham empat abad yang lalu dengan yang disaksikan penulis tujuh dekade yang lalu, yaitu sama-sama menghasilkan bekerjanya “hukum Gresham”, akan juga menghasilkan dampak lain yang sama?” Menurut pendekatan berorientasikan masalah adalah tetap beresiko tinggi untuk menjawab “ya” atas pertanyaan tersebut.

Kesaksian Gresham pada masanya, dengan versi penulis, menghasilkan kesipulan bahwa gejala resesi ringan akan terjadi. Adapun alasannya ialah dengan adanya peristiwa ‘bad money drives out good money’, jumlah uang beredar pasti menurun. Dengan menggunakan analisis IS-LM, selama struktur biaya menghasilkan emas dan atau perak tidak mengalami perubahan besar, pengaruhnya terhadap resesi yang timbul juga tidak besar.

Selanjutnya, bagi pihak tentara Jepang, tentunya dari segi politik tentunya dikehendaki, “semakin cepat mata uang Jepang sirna dari peredaran adalah semakin baik”, tentunya tanpa biaya sepeserpun tujuan tersebut dapat dicapainya dengan mudah. Semakin tingginya inflasi, entah jenisnya ‘cost push’ ataupun ‘demand pull’ sama –sama mempercepat hilangnya mata uang Hindia-Belanda dari peredaran.

(bersambung)

 

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: